Langsung ke konten utama

Postingan

PERFECTIONISM IS NOTHING

Semasa di bangku sekolah (SD, SMP, SMA bahkan Kuliah) dan mungkin juga hingga kini, saya mengakui adanya kecenderungan sifat perfeksionis dalam diri saya. Kalau boleh saya mendefinisikan, perfeksionis adalah sifat seseorang yang ingin tampil dalam kesempurnaan pencapaian, tidak ingin terlihat adanya kekurangan, atau paling tidak harus sama dengan apa yang orang lain perbuat bila itu suatu keharusan bersama.  Memang dahulu saya berpikir bahwa adanya sifat ini dalam diri saya seharusnya menambah nilai lebih saya atas pencapaian-pencapain dalam hidup ini. Bila ada tekad untuk tampil sempurna, itu merupakan prestasi besar. Itulah yang dulu saya rasa. Namun, setelah melalui perenungan panjang yang saya alami, saya mengalami sebuah distorsi antara sifat perfeksionis dengan tujuan hidup yang saya inginkan. Ada gap yang membuat sifat ini tak sejalan dengan tujuan hidup saya. Mungkin kalau saya berbicara tentang tujuan hidup, secara universal manusia akan menjawabnya dengan jawaba...

MUDA DAN GALAU

Judul tulisan saya kali ini saya angkat dari tayangan MTGW di MetroTV pada tanggal 16 Oktober lalu. Karena saya merasa tema ini menarik dan penting untuk diketahui bersama, akhirnya saya putuskan untuk mengintisari apa yang disampaikan oleh Pak Mario Teguh. Di dalamnya, saya mencoba membahas tentang tema ‘’Galau’’ yang akhir-akhir ini melanda kaum muda.  Galau! Pada umumnya, rasa galau dalam hati manusia itu adalah wajar. Terutama pada kaum muda. Rasa galau itu sendiri merupakan tanda adanya pertumbuhan bagi kaum muda. Problem yang biasanya dialami kaum muda saat mereka galau adalah: (a)Ketidakpastian, (b)Ketidakjelasan, (c)Belum damainya dengan kesalahan masa lalu. Meskipun galau di masa muda itu dinilai wajar, bukan berarti kita sebagai orang yang menuju tahap pendewasaan membiarkan rasa galau menguasai diri kita. Rasa galau yang berkelanjutan adalah hal yang semestinya tidak kita pelihara dalam diri kita. Karena galau yang berkelanjutan ini nantinya akan meng...

BELAJAR QUR'AN SEPANJANG HAYAT

“Nanti hari Senin, 3 Oktober, kita mulai lagi ya tadarusannya!’’ terdengar olehku ajakan seorang kakek yang memintaku untuk mengikuti kembali kajian Al-Qur’an yang selama Ramadhan kemarin telah kami rutinkan. Memang sebelumnya saya telah mendengar desas desus kabar bahwa kajian Al-Qur’an yang telah kami laksanakan di bulan Ramadhan akan kembali dirutinkan pasca Ramadhan. Ini adalah inisiatif sekaligus ajakan dari salah seorang ustadz yang menjadi pembimbing kami untuk mengaji Al-Qur’an. Sang ustadz pembimbing sangat mengharapkan adanya sebuah majelis ilmu yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah. Semua elemen yang memakmurkan masjid pun diundang untuk itu. Sewaktu Ramadhan, masjid sangat ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin belajar Al-Qur’an. Namun kenyataan yang saya dapatkan pada hari perdana pembukaan majelis Al-Qur’an sangat diluar perkiraan. Tampak pada acara perdana tersebut hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya. Mungkin se...

MASIHKAH ENGKAU MENYAYANGI AYAH-IBUMU SETELAH ENGKAU MENIKAH?

Spontan saja saya mengambil judul tulisan ini. Terasa berat menuliskannya. Karena memang saya belum menikah. Cuma bagi saya tulisan ini adalah luapan isi hati saya atas kekesalan pribadi pada mereka yang telah menikah tetapi malah mengabaikan keberadaan orang tuanya. Memang sejatinya sebuah pernikahan adalah ibadah. Anjuran nabiyullah bagi setiap umat demi menyempurnakan agama. Tapi, pernahkah kita mencoba bertanya pada diri kita sendiri, ‘’Pernikahan seperti apa yang bernilai ibadah itu?” Apakah cukup pernikahan yang bernilai ibadah itu hanya dipandang dari kebahagiaan sepasang insan yang menikah saja? Ataukah kebahagiaan orang tua pasca pernikahan anaknya juga perlu diperhatikan? Tentu kita perlu membenahi kembali makna pernikahan yang bernilai ibadah itu. Jujur! Kalaulah boleh saya mewakili isi hati para orang tua, sebenarnya ada rasa kehilangan yang sangat besar bagi kedua orang tua saat harus merelakan putra/putri kesayangan mereka membina sebuah pernikahan. Dan perasaan...

PENTINGNYA TOTALITAS DALAM MENGGALI POTENSI DIRI

Jangan pernah berpikir untuk mengejar materi, Jangan pernah berpikir untuk mengejar gelar, Jangan pernah berpikir untuk mengejar jabatan... Tapi, berpikirlah bagaimana agar materi, gelar, dan jabatan yang mengejar anda! Bagaimana caranya? TOTALITAS DALAM MENGGALI KOMPETENSI DIRI Ya, Itulah perkataan dari salah seorang narasumber dalam sebuah dialog (red:Untukmu Indonesia) di TVRI. Sayang, saya belum sempat tahu nama dari nara sumber tersebut. Tapi yang pasti, beliau adalah seorang akademisi dari Universitas Indonesia. Saya sangat tertarik untuk menulis tentang arti sebuah totalitas. Bukan berbicara tentang idealisme yang muluk-muluk. Tapi memang saya merasa bahwa totalitas adalah hal penting yang masih saja sulit untuk diaplikasi dalam kehidupan saya secara pribadi. Kutipan perkataan dari narasumber di atas saya yakini kebenarannya. Karena memang saya juga merasa, seringkali totalitas yang saya jalani selama ini masih belum sepenuhnya ‘’total’’. Masih saja ada berbag...

Urgensi Menjaga Kebersihan Saat Buang Air Kecil (Disertai Adab-Adabnya)

Suatu hari di suatu masjid saat hendak mengambil air wudhu, saya menyempatkan diri untuk melakukan ritual biologis manusia (baca:buang air kecil). Di salah satu sisi tembok kamar kecil masjid tersebut tertempel sebuah kertas bertuliskan hadits Nabi SAW yang mengingatkan para tamu masjid untuk menjaga kesucian pakaiannya saat hendak buang air kecil. Kurang lebih seperti ini tulisannya: Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah pernah bersabda: ".....Kedua penghuni neraka tersebut sedang disiksa karena mereka tidak menjaga dirinya dari percikan air kencing yang mengenai pakaiaannya." (HR.Bukhori) Sontak saja saya langsung berpikir. Bagaimana dengan rutinitas saya? Sudahkah saya mengamalkan hadits nabi tersebut? Ataukah saya termasuk golongan yang akan disiksa dalam kubur karena masih belum menjaga kesucian dalam adab buang air kecil? Na’udzubillahiminzalik. Cepat-cepat hati ini langsung beristighfar, seraya memohon ampun pada Allah bila memang benar saya masih belum mengamalkan ...

ASPEK SPIRITUAL IBADAH HAJI

Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik... Innalhamdaa.. Wanni’mataa... Lakawalmul, Laasyarikalaa... Pergi haji Artinya menuju Allah yang esa Membawa hati dan diri yang hina Memberi hadiah kepada Allah Berhati-hatilah menghadapNya Setiap hamba Pergi haji dengan segala yang baik Hati yang baik, akhlak yang baik Harta yang halal, hati yang bersih Niat yang suci amal mulia Pergi haji Ilmu tentangnya mestilah ada Agar syarat dan rukun tepat sempurna Sah dan batalnya dapat dijaga Agar amalan hajinya tidak sia-sia          Potongan bait-bait di atas adalah lirik sebuah lagu yang saya kutip dari lagu milik Raihan berjudul Menuju Allah. Sebuah lagu yang sangat menyentuh hati. Mengisahkan tentang perjalanan haji umat Islam dalam memenuhi panggilanNya.             Ibadah haji merupakan ibadah penyempurna rukun Islam bagi setiap muslim. Karena Allah sendirilah yang men...